1. Membaca Nyaring
Bacalah terjemahan blog Malala ini dengan nyaring dan bergantian dengan teman di kelas. Perhatikan urutan kejadian dalam teks ini. Perhatikan pula intonasi yang baik dan pengucapan yang jelas saat membaca agar teman kalian dapat menyimak bacaan dengan baik.
Malala Yousafzai adalah gadis Pakistan penerima Hadiah Nobel Perdamaian termuda. Ketika berusia 12 tahun, Malala menulis blog dengan nama samaran di koran lokal. Blog ini berisi protes terhadap Taliban yang melarang anak-anak perempuan pergi ke sekolah.
Blog Malala Yousafzai
Sabtu, 3 Januari
Kemarin aku bermimpi buruk tentang helikopter tentara dan Taliban. Aku bermimpi seperti itu sejak adanya operasi militer di Swat, kota tempat tinggalku. Ibuku membuatkan sarapan untukku dan aku pergi ke sekolah. Aku takut pergi ke sekolah karena Taliban melarang semua anak-anak perempuan pergi ke sekolah.
Hanya 11 murid yang ada di kelasku sekarang, biasanya 27. Tiga temanku pindah ke Peshawar, Lahore, dan Rawalpindi bersama keluarga mereka setelah larangan ini.
Minggu, 4 Januari
Hari ini libur dan aku bangun kesiangan, sekitar pukul 10. Aku mendengar ayahku berbicara tentang tiga orang yang tewas tergeletak di perempatan Green Chowk. Aku sedih mendengar berita ini. Sebelum ada operasi militer, biasanya setiap Minggu kami semua piknik ke Marghazar, Fiza Ghat, dan Kanju. Tapi, sudah satu setengah tahun lamanya situasi di sini tidak memungkinkan kami untuk piknik. Hari ini aku melakukan tugas membereskan rumah, mengerjakan PR, dan bermain dengan adik laki-lakiku. Tapi jantungku berdebar keras—karena besok aku harus pergi ke sekolah.
Senin, 5 Januari
Aku bersiap-siap pergi ke sekolah dan mengenakan seragamku ketika aku ingat kepala sekolah melarang kami memakai baju seragam. Akhirnya, aku memutuskan untuk memakai gaun kesayanganku berwarna merah muda. Gadis-gadis lain di sekolah juga memakai gaun berwarna-warni ke sekolah. Tetapi, ketika upacara pagi kami diberi tahu agar tidak mengenakan pakaian warna-warni karena Taliban melarangnya.
Rabu, 7 Januari
Aku menghabiskan libur bulan Muharam di Buner. Aku menyukai Buner karena gunung dan padang hijaunya. Swat, tempat tinggalku juga indah, tapi tidak ada kedamaian. Sementara itu, di Buner ada damai dan ketenangan. Tidak ada tembakan atau ketakutan. Kami semua bergembira. Hari ini kami pergi ke Mausoleum Pir Baba dan banyak sekali orang di sana. Orang-orang ke sini untuk beribadah, sementara kami ke sini untuk berwisata. Ada toko yang menjual gelang, anting-anting, liontin, dan perhiasan lainnya. Aku sempat ingin membeli tapi tidak ada yang menarik hatiku—ibuku membeli anting-anting dan gelang.
Jumat, 9 Januari
Di sekolah kami mendiskusikan rumor tentang kematian Maulana Shah Dauran, yang biasanya berpidato di radio FM. Dia adalah orang yang mengumumkan pelarangan anak-anak perempuan pergi ke sekolah. Beberapa anak mengatakan dia sudah mati, tetapi yang lain tidak setuju. Rumor tentang kematiannya beredar karena tadi malam dia tidak berpidato di radio. Salah seorang anak mengatakan dia sedang cuti. Di malam hari aku menonton TV dan mendengar tentang ledakan di Lahore. Aku bertanya-tanya, “Mengapa terus-menerus terjadi ledakan di Pakistan?”
Rabu, 14 Januari
Aku sedang malas ke sekolah karena besok sudah mulai libur musim dingin. Kepala sekolah mengumumkan liburan, tetapi tidak menyebutkan kapan sekolah akan buka kembali. Ini baru pertama kalinya terjadi. Biasanya tanggal kembali ke sekolah selalu diumumkan dengan jelas. Kepala sekolah tidak memberi tahu alasan tidak mengumumkan kapan sekolah buka kembali, tetapi aku menduga karena Taliban telah mengumumkan pelarangan sekolah untuk anak-anak perempuan sejak 15 Januari. Kali ini, murid-murid perempuan tidak begitu bersemangat libur karena mereka tahu jika Taliban menerapkan larangannya, mereka tidak akan kembali lagi ke sekolah. Beberapa anak perempuan optimis bahwa sekolah akan buka kembali di bulan Februari, tetapi yang lain mengatakan bahwa orang tua mereka telah memutuskan untuk pindah dari Swat dan pergi ke kota lain demi pendidikan mereka.
Karena hari ini hari terakhir sekolah, kami memutuskan untuk bermain di taman lebih lama. Aku berharap sekolah suatu hari akan buka kembali, tetapi ketika pulang aku melihat bangunan itu seolah aku tidak akan bisa kembali ke sini lagi.
Kamis, 15 Januari
Hari ini tanggal 15 Januari, hari terakhir sebelum larangan Taliban diberlakukan. Temanku datang membahas PR seolah tidak terjadi apa-apa. Hari ini aku juga membaca diari yang kutulis untuk BBC (dalam bahasa Urdu) dan diterbitkan di koran. Ibuku menyukai nama penaku “Gul Makai” dan mengatakan pada ayahku, “Mengapa namanya tidak kau ganti saja menjadi Gul Makai?”
🧩 Mengurutkan Kejadian – Blog Malala
Seret angka ke kolom Nomor Urut sesuai urutan kejadian yang benar.



